Culinary

Nasi Minyak Perekat Persaudaraan Pemuda Kampung Pinueng

Hello sahabat semua..

Kemaren di hari raya ke-empat di kampung kami diadakan *halal bil halal*, dan ini adalah acara rutinitas setiap tahun pada bulan syawal.

Setiap rumah yang laki-laki mengadakan rapat di malam hari sebelum hari pelaksanaan acara makan-makan alias *kenduri*. Di sana membahas apa saja menu yang akan dijadikan santapan pada hari yang sudah ditentukan.

Dan kewajiban memberikan sumbangan untuk terlaksana acara tersebut diwakilkan oleh laki dewasa setiap rumah. Sumbangan ada batasannya tapi kalau ingin memberikan lebih, juga sangat boleh dan dianjurkan.

Ini salah satu agenda untuk memperekat rasa persaudaraan antara setiap individu para laki dari rumah ke rumah dan sebagai acara ramah tamah.

Dan proses penyajian pun dilaksanakan secara gotong royong oleh para laki dewasa dari proses penyembelihan ayam, ikan asin, kacang, eh! Ikan asin dan kacang tidak perlu disembelih, ikan asin cukup dibersihkan, dipotong dan digoreng. Kacang dibersihkan sambil memilih dan memilah yang busuk dibuang lalu digoreng.

Ada juga yang cuci cabai, potong bawang merah, bawang putih dan tomat untuk dijadikan sambal sebagai pelengkap nasi minyak.

Sebagian yang lain cuci beras dan menyiapkan tungku dan peranti untuk menanak nasi, seperti bait lagu *kanoet bu* *hehehe* dan dijadikan nasi minyak.

Kerja nyata ini, tapi bukan KKN ya, menggambarkan suasana persatuan yang erat yang dinahkodai oleh seorang kepala desa atau *Keuchiek gampong*.

Masyarakat itu adalah warna dari wibawa seorang kepala desa *hmmm*, ianya bijak, maka bijak juga yang dipimpin. Paling kurang cipratan aura kebijakannya terpantul walau hanya sepintas.

Selesai masak nasi minyak, dibungkus dan diisikan ayam goreng, ikan asin goreng *seucrit*, nama aja ikan asin, ya harus *seucrit*, kalau kebanyakan, asinan namanya. Dan ditambahkan kacang goreng sambal, dibungkus dan nasi sudah siap disantap.

Tiba waktu makan, dijemput hadir anak-anak di bawah umur dengan diumumkan di mikrofon untuk datang ke *Meunasah* untuk makan-makan dan memeriahkan suasana, kalau di rumah punya anak sepuluh, semuanya diangkut yang sudah baligh dan berakal *eh*! yang sudah ngerti cara makan dan cuci tangan, bukan anak kecil di bawah 2 tahun.

*Bungkusan nasi minyak*

Dan untuk para perempuan dapat kiriman juga berupa bungkusan nasi tanpa perlu hadir ke *Meunasah*, karena perempuan biasanya masak di rumah, *eh*! Entah iya pun alasannya begitu, atau karena perempuan memang lebih baik makan dirumah? jawaban yang pasti belum tahu juga, harus nanya lagi ke *Keuchiek* jawaban yang pasti.

Yang terpenting *alhamdulillah*, bisa juga kami para perempuan makan nasi minyak olahan para laki, ya enaklah ya kan! Yang gratis itu selalu enak, kalau ada yang bilang tidak enak, berarti kurang bersyukur *hihihi*…

Ketika bungkusan nasi sampai di rumah, saya pun berkreasi untuk menambah sedikit keasinan nasi minyak ini, dengan menyiapkan telur asin untuk digoreng.

Saya goreng bawang merah, bawang putih dan cabai rawit, kentang dan yang terakhir Saya masukkan telur asin dua butir. Dan jadilah lalapan telur asin dan dicocol dengan nasi minyak.

Gimana rasa telur asin ini? Hmmm.. yang penasaran boleh dicoba, enak dan enak sekali bagi yang menyukai telur asin karena bagi saya, semuanya enak, yang tidak enak itu, tidak makan apa-apa dan membuat perut busung lapar *hahaha*…

*Oseng-oseng telur asin*

Sebenarnya bagi saya, ini adalah momen untuk menghabiskan stok telur asin tapi, sudah bosan kalau dimakannya direbus seperti biasa. Diolahlah sesuai perintah daya hayal ketika itu.

*Siap disantap dengan nasi minyak*

Beginilah tradisi kampung kami menjelang *halal bil halal aidil fitri*, gimana tradisi di kampung kalian semua pemirsa? Pasti lebih seru, meriah dan membahagiakan sekali tentunya.

 

Setelah sekian lama tidak berurusan dengan blog akhirnya kesampaian juga menyapa lagi, Alhamdulillah atas kesempatan ini ya Allah. Karena merupakan anugerah terindah ketika kita masih bisa hidup dan menghirup oksigen gratis dariNya. Dan yang membuat hati bahagia lagi, bertambah lagi wadah yang merupakan sarana untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain. Sharing is caring... Dan menulis merupakan salah satu obat untuk menyembuhkan dan mengobati luka yang menganga bagi penderita. Bahkan, menjadi wadah berbagi rasa bagi mereka yang ingin berbagi dan yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Yihuuyy.... saya punya blog, I am blogger right now! Thank for a chance, saya akan menulis dan menulis apa yang tersirat tersurat dan bermanfaat tentunya Saya yang berbahagia With love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *