Uncategorized

Ketika nyali diuji, mampukah?

Setelah menikmati rujak u groeh dan membungkus kelapa muda, melanjutkan perjalanan sambil menikmati panorama suelawah yang indah.

Udara yang sedang cerah dan sesekali diterpa angin yang berdesiran dan bahkan terkadang bertiup kencang, harus sangat hati-hati mengendrai motor.

Masih dalam suasana setengah membalap tapi tetap awas dengan keadaan sekitar. Dan ketika sampai di perumahan kepolisian seorang ibu sambil setengah berteriak minta tolong, ada cemas dan sedikit deg-deg ser untuk berhenti.

Owalah! Ternyata si ibu bersama 4 anaknya dan ada bayi mungil lagi bersama barang yang aduhai, beliau minta tolong saya untuk membonceng 2 anaknya, dan motor beliau sudah diparkir di atas bukit menjorok ke dalam.

Batin saya diskusi antara iya dan menolak tapi mengiyakan lebih kuat. Karena kasihan dengan seorang wanita yang sangat jinggo, sampai di Sarei saja, katanya, hmmm… “iya ga apa-apa,” tapi saya mengkhawatirkan dia dengan dua anaknya yang lain, dan motor gimana?

Saya memutuskan bertanya: “kenapa dengan motornya? Motor kami ga kuat kalau kami naiki semuanya, dan saya menebak-nebak kayaknya baru saja mereka beristirahat sejenak setelah makan bersama berlima dan motornya dibiarkan istirahat sejenak. Itu hanya terkaan dan hayalan saya saja.

Akhirnya tanpa memperpanjang pertanyaan dan saya persilakan dua anaknya mengikuti saya, dan satu hal yang harus saya lakukan, harus berjalan pelan-pelan, tidak boleh ngebut berhubung menanggung dua manusia titipanNya.

Yang saya bonceng kira-kira umur 12 tahun dan 2,5 tahun. Saya membayangkan bagaimana kalau si kakak tertidur? Akhirnya saya ajak bicara.

“Kenapa kak motornya?”

“Trus ummi, adek sama abang gimana?”

“Motornya sudah lelah jawabnya”

“Trus, abi kakak kemana?”

“Abi ke Meulaboh”

Sambil mikir, “elu ngapain sih nanya urusan orang? Lu mau bantu, bantu saja”

Hmm..baiklah!

“Jangan nanya lagi please,” hati yang satu lagi berontak.

Tapi itu anak harus diajak ngobrol biar ga tertidur, berhenti bertanya sambil mikir “kenapa ya? Kenapa ya?”

Tiba-tiba si kakak bersuara tapi, dengan siapa dia ngobrol?

Rupanya dia dibekali gawai juga untuk bisa menjejaki kami, dan tidak seberapa jauh, rupanya si ibu dengan anak laki 8 tahun dan bayi digendongan kira-kira 5 bulan mengejar motor kami.

Ya Allah, antara sesak dan haru, perempuan Aceh banget, ga manja dan berani menitip anak ke orang lain, coba kalau yang dititipin itu punya niat jahat, tapi itu salah satu cara menyelamatkan anak-anaknya juga, karena melewati Seunapet tidak mungkin muatannya banyak, dia melewati motor kami dan sampai di Sarei dia berhenti membeli jagung, saya pun berhenti tapi tidak ada tanda-tanda dia memberi arahan untuk menurunkan anak-anaknya, padahal kesepakatannya hanya sampai Sarei saja.

“Kak! Gimana?”, Tanya saya dengan ibu tersebut.

Anak-anak ini saya bonceng sampai Sigli?

Baru dia nanya, “adek pulang kemana?”

“Saya ke Caleue kak”

“Anak-anak ini bisa kan kalau saya bonceng sampai Sigli?:

“Bisa”, jawabnya

“Baiklah” saya lanjut kak ya.

“Ok” balasnya

Padahal hari itu, saya dengan segala rasa, pingin cepat sampai ke tempat, dan sudah membayangkan kasur sangat indah, tapi Allah uji dengan tawaran yang lebih menggiurkan di depan mata.

Di saat itulah saya harus bisa melobi hati untuk tetap bertahan walau dalam keadaan kantuk yang sangat, tapi dengan anak-anak itu di belakang saya harus terjaga lahir dan batin karena risau dengan keselamatan mereka.

Lagi asik dengan pertanyaan-pertanyaan di kepala, bahkan pertanyaan yang tidak pantas dipertanyakan.

“Manusiakah mereka? Atau………..?”

“Kenapa tega dengan anak-anaknya yang masih kecil begitu?, diajak bertempur dengan angin liar”

Padahal banyak L300 atau mobil apa saja di jalan. Ah! Sudahlah jangan kamu membebani dirimu dengan pertanyaan-pertanyaan, nikmati hidupmu dengan membantu orang yang lagi membutuhkan.

Sampai ke suatu tempat si kakak nanya, kakak! Dia manggil saya kakak.

Baiklah! Iya nak, jawab saya.

Nenek nanya, “kita sudah sampai di mana?”

Wadus! Langsung susah hati dong, karena jangan pernah tanya sama saya, di mana dan apa nama tempat?

Walau seratus kali itu dilewatin, kalau saya tidak fokus, tidak akan pernah tahu itu tempat namanya apa? Yang saya tahu Seunapet, Sarei, Padang tiji, Grong-grong Sigli, Bambi, Caleue, dan yang lainnya jangan pernah ditanya, gagal fokus.

Hmmm… kalau bohong, atau kelamaan mikir, takut si anak jadi ketakutan, akhirnya ngasal jawab, “Padang Tiji.”

Rupanya setelah beberapa lama baru sampai Padang Tiji, hahaha… tertawa dalam hati kecil saja. Saya hilang arah tadi.

Neneknya nelpon lagi nanya cucunya, “sudah dimana?”

“Kak! Kita dimana?”

“Jawab apa ya?,” Bisik hati

Tadi Padang Tiji, sekarang Padang tiji lagi, hadeeuus!! Gimana ini??

Oh Tuhan, “harus jawab apa ya?”

Nak, maaf ya, tadi salah bilang, sekarang kita di Padang tiji, ga mungkin menjelaskan lebih lanjut kalau ga hafal dan tahu nama tempat.

Telpon lagi dan telpon lagi, nanya “dimana lagi?”

Benar-benar saya diuji hari ini, kesabaran yang super duper, belum lagi memikirkan nasib anak-anak imut itu, anak sendiri saja tidak pernah saya bonceng jauh, kecuali sama ayahnya anak-anak.

“Kak! Kata ummi, kami kakak turunkan di Mesjid Al-Falah Sigli saja ya,”

“Boleh,” kata saya

Sebentar lagi dia kasih tahu lagi, kak! Kata ummi sampai Bambi.

Baik!

Dan terus begitu saja. Sebentar di bambi dan berubah di Al-Falah dan sebaliknya.

“Kakak tahu alamat rumah kan?”, tanya saya

“Tahu, samping jalan raya lewat pom bensin sikit.”

“Baik”, kata saya menenangkan hati

“Kalau sudah sampai kasih tahu ya!”

Dan ketika sudah melewati pom bensin Bambi, saya melambat lagi, dan “di sini saja kak”, katanya,

“Dimana rumahnya? Biar diantar ke rumah saja,”

“Ga apa-apa kak, itu rumahnya di belakang bambu itu.

Di belakang bambu?

Merindinglah kan ya? Di belakang bambu, membayangkan makhluk lain yang berumah di belakang bambu.

Dia turun pelan dan saya kasih tahu, “Adeknya dipegang ya,”

“Kak! Kata ummi disuruh minta no hp kakak,” Sambil mendikte no hp saya terus saja sibuk dengan si adeknya yang berumur 2,5 tahun karena dekat jalan raya.

“Adeknya dipegang!”

Dan ternyata buka hp yang dia punya tapi jam yang serba guna, canggih juga wak! Siap bertempur mereka.

Begitulah perjalanan selesai makan rujak u groeh dan diuji nyali dengan amanah titipanNya.

Saya sampai di rumah tepat ketika bumi sudah memeluk remang-remang. Dan rasanya plong dada dengan beban yang maha dahsyat, khawatir dengan mereka tertidur dan beribu hal lainnya.

Tapi satu yang harus diyakini, Tuhan Yang Maha Baik pasti punya beribu alasan kenapa menghadiahkan kita dengan hal yang demikian?

Alhamdulillah atas segala hal yang mampu kita lewati dengan segala pertolonganNya, bukan karena kita hebat tapi Allah menguji nyali untuk membuat kita lebih kuat dalam memeluk hati dan memiliki rasa empati kepada sesama, tanpa menyerbunya dengan beribu pertanyaan.

Jadi ingat kata bijak: “Everyone has a story, Everyone has a struggle, and everyone needs help along the way”.

Sungguh! Kita lemah dan tidak berdaya tapi Dia yang membuat kita mampu untuk bisa kuat dan terus kuat. Sepenggal kisah menjelang Malam ketika itu.

Setelah sekian lama tidak berurusan dengan blog akhirnya kesampaian juga menyapa lagi, Alhamdulillah atas kesempatan ini ya Allah. Karena merupakan anugerah terindah ketika kita masih bisa hidup dan menghirup oksigen gratis dariNya. Dan yang membuat hati bahagia lagi, bertambah lagi wadah yang merupakan sarana untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain. Sharing is caring... Dan menulis merupakan salah satu obat untuk menyembuhkan dan mengobati luka yang menganga bagi penderita. Bahkan, menjadi wadah berbagi rasa bagi mereka yang ingin berbagi dan yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Yihuuyy.... saya punya blog, I am blogger right now! Thank for a chance, saya akan menulis dan menulis apa yang tersirat tersurat dan bermanfaat tentunya Saya yang berbahagia With love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *